[googlee66d1e66a24365f0.html]

Sabtu, 19 April 2014

NILAI DAN NORMA SOSIAL

NILAI SOSIAL
Pengertian nilai sosial adalah : - segala sesuatu yang dianggap berharga oleh masyarakat. - anggapan masyarakat tentang sesuatu yang diharapkan, indah, dan benar - keberadaan nilai bersifat abstrak dan ideal. 

Bentuk-bentuk nilai :
1. Pemikiran 
2. Perilaku
3. Benda 

Contoh nilai sosial dalam masyarakat Indonesia : - masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai keramahan, sehingga bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah. - masyarakat Indonesia menjunjung tinggi nilai kepedulian sosial, sehingga ketika ada musibah di suatu daerah, bantuan dari berbagai daerah segera datang.
Contoh nilai di sekolah: - sekolah menjunjung tinggi nilai disiplin waktu, sehingga ketika ada siswa yang terlambat, diberikan sanksi. 

Ciri-ciri nilai sosial:
1. Merupakan konstruksi masyarakat sebagai hasil interaksi antarwarga masyarakat. 
2. Disebarkan diantara warga masyarakat. 
3. Terbentuk melalui sosialisasi (proses belajar). 
4. Merupakan bagian dari usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia.
5. Dapat mempengaruhi perkembangan diri seseorang. 
6. Memiliki pengaruh yang berbeda antarwarga masyarakat.
7. Cenderung berkaitan satu sama lain dan membentuk sistem nilai. 

Fungsi nilai sosial bagi kehidupan manusia:
1. Dapat menyumbangkan seperangkat alat untuk menetapkan "harga" sosial dari suatu kelompok. 
2. Dapat mengarahkan masyarakat dalam berpikir dan bertingkah laku.
3. Sebagai penentu terakhir manusia dalam memenuhi peranan-peranan sosial. Nilai sosial dapat memotivasi  seseorang untuk mewujudkan harapan sesuai dengan peranannya.
4. Sebagai alat solidaritas di kalangan anggota kelompok. 
5. Sebagai alat pengawas perilaku manusia. - Memberikan harapan yang baik, sikap mandiri, dan bertanggungjawab - Mengarahkan cara berperasaan, berpikir, berkehendak, dan bertindak 

Jenis-jenis nilai menurut Prof. Dr. Notonegoro :
1. Nilai material : nilai yang berguna bagi jasmani manusia. Contoh nilai material : - makanan -minuman - pakaian
2. Nilai kerohanian : nilai yang berguna bagi rohani manusia. Contoh nilai kerohanian : - berdzikir, mengingat Allah - membaca Al Qur'an - sholat. Macam-macam nilai kerohanian: a. Nilai kebenaran b. Nilai keindahan (estetika) c. Nilai kebaikan atau nilai moral (etika) Contoh nilai etika : Setiap bertemu dengan bapak atau ibu guru, Harry selalu mengangguk hormat dan mengucap salam dengan tersenyum. d. Nilai religius
3. Nilai vital : nilai yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan aktivitas. Contoh nilai vital : - sepeda motor bagi seorang ibu untuk mengantar anaknya pergi sekolah dan berbelanja ke pasar - kalkulator bagi bendahara kelas - buku paket bagi siswa saat belajar - motor bagi tukang ojek Nilai dominan : nilai yang dianggap lebih penting dibandingkan nilai lainnya. Contoh : Pak Romo, karena anaknya kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang memerlukan biaya besar, membatalkan niatnya untuk membeli mobil baru. Nilai yang mendarah daging (internalized value) : nilai yang telah menjadi kepribadian. Biasanya nilai ini telah tersosialisasi sejak seorang masih kecil dan apabila ia tidak melakukannya ia akan merasa bersalah. Contoh : - makan dengan tangan kanan - berpamitan kepada orang tua bila bepergian

Macam-macam nilai berdasarkan wujudnya:
1. Nilai immaterial: tidak berwujud. Sulit untuk berubah. Contoh: ideologi, gagasan (ide), pemikiran dan sistem politik, dan peraturan-peraturan.
2. Nilai material: berwujud. Mudah untuk berubah. Contoh: karya seni, gedung, jembatan, rumah, dan pakaian. 

NORMA SOSIAL Pengertian norma sosial : aturan berperilaku dalam masyarakat. Fungsi norma sosial : - Mengatur perilaku manusia dalam berinteraksi - Memberi sanksi terhadap perilaku menyimpang dalam masyarakat Sifat norma: 1. Norma formal - Bersumber dari lembaga yang resmi - Tertulis Contoh: surat keputusan, peraturan daerah, undang-undang 2. Norma nonformal - Tidak tertulis Contoh: aturan dalam keluarga, adat istiadat.

Jenis-jenis norma berdasarkan daya ikatnya/sanksi yang diberikan : 1. Cara (usage) Contoh : cara makan, tidak mengeluarkan bunyi Sanksi bila melanggar : dianggap tidak sopan. 2. Kebiasaan (folkways) - dilakukan berulang-ulang Contoh : - Mengucapkan salam ketika bertamu - Menganggukkan kepala sebagai tanda hormat kepada orang lain - Membuang sampah pada tempatnya Sanksi bila tidak melakukan : dianggap sebagai penyimpangan. 3. Tata kelakuan (mores) Contoh : larangan membunuh, memperkosa. Sanksi 4. Adat (custom) Contoh : larangan menguburkan jenazah di Bali dan larangan merusak hutan pada suku Kajang Tana Toa di Sulawesi Selatan, sanksinya dikucilkan. 5. Hukum (law) : aturan yang dirumuskan secara tertulis (& sanksi juga dirumuskan secara tertulis). Contoh : aturan lalu lintas 

Macam-macam norma dalam masyarakat : 
1. Norma kesopanan : norma yang bersumber dari aturan tingkah laku yang berlaku di masyarakat. Contoh : - tidak meludah sembarangan - tidak meletakkan kaki di atas meja. - tidak berkata kasar pada guru 
2. Norma kesusilaan Contoh : - tidak boleh menggoda wanita - suami istri tidak bermesraan di tempat umum 
3. Norma agama Contoh : mendirikan shalat - Fungsi norma agama bagi kehidupan masyarakat : menjaga solidaritas masyarakat beragama 
4. Norma kebiasaan Contoh : bersalaman ketika bertemu 5. Norma hukum Contoh : warga masyarakat yang sudah berusia 17 tahun wajib memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk). Bila nilai dan norma dilaksanakan, akan tercipta keteraturan. __________ 

 Referensi Kun Maryati dan Juju Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas X Niniek Sri Wahyuni dan Yusniati. 2007. Manusia dan Masyarakat, Pelajaran Sosiologi untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Ganeca Exact. - See more at: http://sosiologipendidikan.blogspot.com/2009/08/nilai-dan-norma-sosial.html#sthash.KycZRb14.dpuf
http://sosiologipendidikan.blogspot.com/2013/06/soal-un-sosiologi-2013.html.#sthash.UATGyR2O.dpuf

http://sosiologipendidikan.blogspot.com/2013/06/soal-un-sosiologi-2013.html.#sthash.UATGyR2O.dpuf

Kamis, 17 April 2014

KONFLIK SOSIAL



A.   Berbagai Konflik di Masyarakat
.                    1. Pengertian konflik sosial
Konflik seringkali terjadi dalam kehidupan manusia. Pada umumnya konflik bersifat negatif, karena adanya kecenderungan antara pihak-pihak yang terlibat konflik untuk saling melenyapkan. Dalam sosiologi, konflik disebut juga pertikaian dan pertentangan. Secara umum konflik berarti percekcokan, perselisihan, atau pertentangan.  Konflik berasal dari bahasa latin configere yang berarti saling memukul.
Berikut adalah pengertian konflik menurut para ahli:
a.      Menurut Soerjono Soekanto, Konflik adalah suatu proses sosial ketika orang perorangan atau sekelompok manusia berusaha memenuhi tujuannya dengan menentang pihak lawan yang disertai ancaman dan atau kekerasan.
b.      Pandangan Ralf Dahrendorf, bahwa dalam setiap masyarakat menyimpan potensi konflik. Anggapannya tentang konflik, sebagai berikut :
1)      Setiap masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan tiada akhir
2)      Konflik adalah gejala yang melekat pada masyarakat
3)      Setiap unsur didalam suatu masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya disintegrasi dan perubahan sosial
4)      Setiap masyarakat terintegrasi atau didominasi oleh sekelompok orang.
c.       Menurut Narwoko dan Suyanto (2004:68) konflik adalah suatu proses sosial yang berlangsung yang melibatkan orang-orang atau kelompok yang saling menantang dengan ancaman kekerasan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa cirri-ciri konflik yaitu:
1)      Terjadi benturan kepentingan untuk memperebutkan sesuatu dengan kekerasan,
2)      Pihak yang bertikai saling mencurigai dan hubungannya tidak harmonis lagi.
3)      Mulai timbul rasa rasa benci, antipati, dan marah.
4)      Saling menyebar isu negatif, fitnah, dan adanya upaya menjatuhkan lawan.
5)      Upaya melerai konflik dengan cara damai gagal
6)   Terjadi benturan fisik, kerusuhan, dan perang.

      Menurut Minnery (1985:35) konflik adalah sebagai interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain saling bergantung namun terpisahkan oleh perbdaan tujuan di mana setidaknaya salah satu dari pihak-pihak tersebut menyadari perbedaan tersebut dan melakukan tindakan terhadap perbedaan tersebut.

           2. Macam-macam konflik sosial
Soerjono soekanto mengklasifikasikan bentuk dan jenis-jenis konflik, yaitu:
a.  konflik pribadi, adalah konflik yang terjadi dalam diri seseorang terhadap orang lain; atau pertentangan antarpribadi atau antarindividu yang umumnya diawali perasaan tidak suka suka terhadap orang lain yang melahirkan persaan benci, senhingga terdorong untuk memaki bahkan memusnahkan pihak lawan.
Contoh: konflik antara suami dan istri karena masalah keuangan.
b.      Konflik rasial (etnis)
Umumnya terjadi pada negara yang beragam suku dan rasnya. Ras adalah pengelompokkan manusia berdasarkan ciri-ciri biologisnya seperti bentuk muka dan hidung, warna kulit, dan warna rambut. Secara umum ras di dunia dikelompokkan menjadi lima ras, yaitu Australoid, Mongoloid, Kaukasoid, Negroid, dan ras-ras khusus. Sebenarnya konflik ini bukan berasal dari perbedaan ras tapi karena adanya kesenjangan sosial, ekonomi, politik, dan perbedaan orientasi budaya yang belum terintegrasi secara sempurna.
Contoh: konflik antara etnis Dayak dan Madura yang terjadi di Sambas dan Sampit pada tahun 1998-1999.
c.       Konflik antarkelas sosial
Kelas sosial terjadi karena adanya sesuatu yang dihargai (prestise), seperti kekayaan, jabatan, kehormatan, dan kekuasaan yang mana semuanya itu menjadi dasar penempatan seseorang dalam kelas-kelas sosial, yaitu kelas sosial atas, menengah, dan bawah
                  Contoh: konflik antara buruh dan majikan.
d.      Konflik politik
Konflik politik dapat terjadi karena setiap golongan di masyarakat melakukan politik yang berbeda dalam menghadapi sebuah masalah yang sama. Konflik politik adalah pertentangan antara partai-partai politikuntuk memperebutkan atau mempertahankan kekuasaan negara, atau gerakan untuk mendirikan negara sendiri. Konflik ini dapat terjadi didalam negeri maupun di luar negeri.
Contoh: GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang berkonflik dengan pemerintah RI.
e.      Konflik internasional
Konflik internasional yaitu konflik yang melibatkan beberapa kelompok negara atau antarblok. Konflik internasional biasanya terjadi karena perbedaan kepentingan di mana menyangkut kedaulatan negara yang berkonflik. Karena menyangkut suatu negara, maka akibat dari konflik ini dirasakan oleh seluruh dalam suatu negara tersebut. Penyebab konflik ini misalnya adalah benturan kepentingan ekonomi, politik, wilayah, dan tanah jajahan.
Contoh: Perang Dunia I, Perang Dunia II.

B.   Sebab dan Akibat Konflik Sosial
Konflik pada dasarnya memang selalu ada dalam hidup manusia. Dalam sebuah masyarakat juga sering terjadi konflik, hal ini karena konflik itu terbentuk dari sebuah masyarakat. Dalam sebuah fenomena yang terjadi di masyarakat selalu ada penyebabnya. Begitu pula dengan konflik sosial, banyak sekali penyebab dari timbulnya konflik sosial. Ada sebab maka ada pula akibat, maka banyak pula akibat dari konflik tersebut.
1.      Sebab-sebab terjadinya konflik
a.      Perbedaan antar orang
Setiap orang pada dasarnya memiliki perbedaan dari berbagai segi, baik dari pemikiran, pemahaman, dan tingkah laku. Perbedaan antar satu orang dengan orang lain itulah mampu menimbulkan konflik sosial. Dalam hal ini pada umumnya konflik timbul karena adanya perbedaan pendirian atau pemikiran lahir, karena setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap masalah yang sama.
b.      Perbedaan kebudayaan
Kebudayaan antara satu daerah dan daerah lain tidak akan selalu sama. Apalagi jika dilihat dari wilayah Indonesia yang luas yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, yang terpisah oleh perairan yang luas pula. Pola kebudayaan yang ada mempengaruhi pembentukan dan perkembangan kepribadian seseorang. Maka jika berbeda kebudayaan, berbeda pula watak atau sikap seseorang. Perbedaan ini mampu menimbulkan pertentangan antarmanusia maupun antarkelompok manusia.
c.       Bentrokan kepentingan
Kepentingan antarsatu orang dengan orang lainnya dapat berbeda. Perbedaan kepentingan dapat memicu konflik, karena seseorang mampu melakukan apa saja demi mendapat keinginannya guna mencapai kehidupan yang sejahtera. Misalnya bentrokan kepentingan buruh dan pengusaha. Kepentingan buruh adalah mendapatkan upah yang layak sebagaimana mestinya. Namun kepentingan pengusaha berbeda dengan kepentingan buruh, pengusaha tidak ingin rugi karena memberikan upah buruh yang dianggapnya terlalu tinggi. Akibatnya, terjadilah konflik antara pengusaha dan buruh yang berupa demo buruh menuntut kenaikan upah ataupun dengan jalan mogok kerja.
d.      Perubahan sosial
Perubahan sosial yang cepat untuk sementara waktu akan mengubah nilai-nilai yang ada dalam masyarakat
e.      Adanya kesalahpahaman
f.    Adanya intervensi dan ekspansi wilayah terhadap wilayah negara lain tanpa alasan hukum yang sah.
g.      Adanya pemaksaan kebijakan

Contoh Kasus Konflik sosial yang terjadi di masyarakat:
  1. Peristiwa Tasikmalaya adalah contoh konflik sosial akibat keanekaragaman dan perubahan kebudayaan. Peristiwa itu disebabkan timbulnya sikap rasial atau kecemburuan sosial penduduk pribumi terhadap m asyarakat tionghoa (cina).
  1. Peristiwa Situbondo adalah contoh konflik sosial yang disebabkan oleh timbulnya perbedaan pandangan antara pemerintah dengan masyarakat.
  1.  Peristiwa Ambon danPoso adalah contoh konflik sosial yang disebabkan oleh perbedaan agama antara golongan agama islam dan Kristen. Peristiwa Sambas adalah contoh konflik sosialyang disebabkan oleh perbedaan suku bangsa yaitu antara suku Dayak (pendudukasli) dengan suku Madura (penduduk pendatang).
  1. Peristiwa Aceh dan Papua (Irian Jaya)  merupakan contoh konflik sosial yang disebabkan oleh perbedaan politik antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. 


Sabtu, 12 April 2014

HASIL BELAJAR SISWA


Pengertian Hasil Belajar Siswa
           Sebelum seorang guru melakukan penilaian hasil belajar, seharusnya guru tersebut mengetahui terlebih dahulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan hasil belajar. Hal ini agar tidak terjadi kesalahan dalam penilaian hasil belajar, karena seringkali seseorang yang tidak memahaminya hanya tau hasil belajar dalam makna sempit yaitu "nilai". Maka berikut akan diulas beberapa pengertian hasil belajar menurut para ahli sebagai tambahan referensi pengetahuan.
           Hasil pembelajaran adalah semua efek yang dapat dijadikan sebagai indikator tentang nilai dari penggunaan strategi pembelajaran. Penilaian hasil belajar bertujuan melihat kemajuan hasil belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan (Rohani, 2010:205).
           Menurut Slameto (2008:7) “hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu proses usaha setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur dengan menggunakan tes guna melihat kemajuan siswa”. Lebih lanjut Slameto (2008:8) mengemukakan bahwa ”hasil belajar diukur dengan rata-rata hasil tes yang diberikan dan tes hasil belajar itu sendiri adalah sekelompok pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa dengan tujuan mengukur kemajuan belajar siswa”. ”Tes hasil belajar bermaksud untuk mengukur sejauh mana para siswa telah menguasai atau mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan” (Mudjijo, 1995:29).
           Pada umumnya hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Maka ranah-ranah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1.    Ranah kognitif, adalah tujuan pendidikan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual atau kemampuan berpikir, seperti kemampuan mengingat dan kemampuan memecahkan masalah. Domain kognitif menurut Bloom terdiri dari enam tingkatan yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi
2.    Ranah afektif, berkenaan dengan sikap, nilai-nilai, dan apresiasi. Ada lima tingkatan dalam ranah afektif ini yaitu penerimaan, merespons, menghargai, organisasi, dan pola hidup
3.    Ranah psikomotor, meliputi semua tingkah laku yang menggunakan syaraf dan otot badan. Ada lima tingkatan dalam ranah ini, yaitu imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi (Sanjaya, 2009:127-128).

           Menurut  Djamarah dan Zain (2006: 107) “yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah daya serap terhadap bahan pelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi baik secara individual maupun kelompok”
           Gagne (Dimyati dan Mudjiono, 2008:2) menyatakan bahwa ’terdapat lima kemampuan yang diperoleh dari proses belajar mengajar yang dapat diamati tentang hasil belajar, yaitu:
1.      Keterampilan intelektual
2.      Kemampuan penguasaan strategi kognitif
3.       Kemampuan informasi verbal
4.      Kemampuan yang berhubunngan dengan sikap (afektif)
5.      Kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan kerja.

Dimyati dan Mudjiono (2008:3) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari interaksi tindakan belajar dan tindakan mengajar dan dari sisi guru, tindakan diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar sedangkan dari siswa, hasil belajar merupakan berkhirnnya pengalaman belajar. Sementara itu, Oemar Hamalik (2008:36) mengatakan bahwa “hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan”.

Menurut Hamalik (2008:114) “bukti bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti”. Howard Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni:
1.      Keterampilan dan kebiasaan
2.      pengetahuan dan pengertian
3.      Sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah (Sudjana, 1998:45).

Arends (Suyitno, 2011:33) mengemukakan bahwa ‘ada tiga hasil belajar yang diperoleh pelajar yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah, yaitu inkuiri keterampilan memecahkan masalah, belajar model peraturan orang dewasa, dan keterampilan belajar mandiri’.

Dari penjelasan dan pemaparan tentang hasil belajar di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar digunakan sebagai acuan atau patokan  guru untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap bahan ajar atau materi dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir proses pembelajaran dan untuk mengukur hasil belajar tersebut diperlukan tes.Demikian uraian tentang pengertian hasil belajar, semoga bermanfaat ya!

Daftar pustaka
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Mudjidjo. 1995. Tes Hasil Belajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Slameto. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Remaja Rosdakarya.
Suyitno, Imam, 2011. Memahami Tindakan Pembelajaran. Bandung: Refoka Aditama.
Sudijono, Anas. 2007. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers.